Padang Bay City Sebagai Fenomena Kota Menengah
Sabtu, 31 Mei 2008
Oleh : Tamrin Kiram, Program Studi Non-Reguler Ilmu Politik, Fisip, Unand
Salah satu fenomena menarik kota menengah di dunia ini adalah persaingan di antara kota-kota menengah tersebut untuk menjadi kawasan industri dan perdagangan, pengembangan kawasan industri dan perdagangan merupakan salah satu tuntutan kota menengah di dunia untuk bisa menghidupi dirinya sendiri serta tidak menjadi sebuah kota tempat tinggal (dormitory town). Jumlah penduduk 900 ribu jiwa menempatkan Kodya Padang sebagai salah satu kota menengah, “gambaran persaingan kota menengah ini diantaranya dapat dilihat dari jumlah kota menengah di Cina yang mencapai 400 buah yang bersaing untuk memperoleh berbagai lisensi sebagai pusat industri dan perdagangan†jelas Ir. Indra Catri, asisten II Bidang Pembangunan Kodya Padang dalam lecture series peringatan lustrum Fisip Unand ke 15 pada 27 Mei 2008.
Beberapa upaya Pemda Kodya Padang untuk mengembangkan Padang Industrial Park merupakan salah satu bentuk persaingan kota menengah di dunia saat iini. Namun berbeda dari kota menengah lainnya di dunia ini, Kodya Padang bersama-sama dengan kota Meulaboh, Sibolga dan Bengkulu menghadap perairan Samudera Hindia, jalur pantai sepanjang 19 kilometer memiliki beban 1/3 rakyat miskin. Persoalan sistem serta kondisi geografis merupakan beberapa persoalan sistem yang dihadapi oleh Kodya Padang sebagai salah satu kota menengah yang bergerak ke arah kota industri dan perdagangan
Arus uang yang beredar di kota Padang berasal dari belanja negara dan pengeluaran yang dilakukan oleh mahasiswa, modal yang banyak ditanamkan ddalam sektor klehidupan ekonomi di Kodya Padang bersifat “merchant capital†(modal pedagang) yang tidak mengalir sebagaimanahalnya dengan modal industri (industrial capital) yang bergerak dari satu pusat kegiatan ekonomi tertentu kepada pusat kegiatan ekonomi lainnya. Beberapa contoh modal indutri ini sebagaimana yang dipaparkan oleh Asisten II Pemda Kodya Padang bidang pembangunan tersebut adalah upaya pedagang Cina yang membuka usaha warung kopi yang kemudian mendatangkan para pedagang lainnya untuk menitipkan berbagai produk makanan lainnya di warung kopi tersebut, jasa penitipan makanan tersebut diharapkan bisa mengembalikan modal awal pembukaan warung kopi ini.
Model warung kopi pedagang Cina tersebut dilakukan oleh Pemda Kodya Padang melalui pembangunan Padang Bay City berupa resort kawasan wisata di sepanjang Kodya Padang dengan memanfaatkan jalur pantai sepanjang 19 kilometer dari kawasan Teluk Bayur sampai pantai Muara Padang, upaya tersebut sudah dilakukan dengan menawarkan pembangunan kawasan pelabuhan Teluk Bayur kepada kalangan investor dari Belanda.
Kegagalan Pelindo untuk mengembangkan pelabuhan Teluk Bayur menjadi pelabuhan industri dan perdagangan diharapkan dapat diatasi oleh investor asing melalui jaringan perusahaan mereka di negara asal investor tersebut, sedangkan dana studi kelayakan (feasibility study) terhadap pembangunan ini sebesar 500 milyar dibiayai investor tersebut. Namun konsep pengembangan kota pinggir pantai (Padang Bay City) ini dinilai oleh salah seorang mantan Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar tidak didukung oleh laut yang memiliki gelombang yang tenang, sepertihalnya pantai Losari di Makassar.
Untuk mengatsi persoalan laut lepas tersebut terdapat upaya pengerukan sedimen tanah Batang Arau untuk dijadikan kawasan daratan di sepanjang pantai Padang, sedangkan untuk menghubungkan kawasan pelabuhan Teluk Bayur ini dengan kawasan Kodya Padang akan dibangun beberapa terowongan ke Banuaran Kesulitan untuk memperoleh hak penguasaan kawasan pantai air manis yang dikenal memiliki obyek wisata Malin Kundang tersebut dari masyarakat mendorong Pemda Kodya Padang untuk merencanakan membuat terowongan sepanjang 15 kilometer dari Banuaran ke Teluk Bayur tersebut Kesulitan tersebut juga dialami dalam upaya Pemda Kodya Padang dalam mengem,bangan kawasan Muara Padang dari kawasan pelabuhan kepada kawasan opbyek wisata, “Penghargaan masyarakat terhadap bangunan tua yang terdapat di sepanjang Batang Arau, Muara, Padang lebih banyak didasarkan kepada sisi harga per meter tanah di kawasan tersebut daripada unsur budaya dan sejarah bangunan tersebutâ€, kata Catri.
Kegagalan sistemik lainnya dalam pengembangan kota Padang sebagai kota menengah adalah kegagalan pemerintah dalam pengembangan Terminal Aia Pacah disebabkan oleh keberadaan Bandara Internasional Minangkabau yang mengambil alih fungsi transportasi darat menjadi transportasi udara. Begitu juga perkembangan jumlah sepeda motor mengalahkan jumlah penggunaan sarana transportasi umum. Beberpa kendala sistemik tersebut mendorong Pemda Kodya Padang untuk mengembangkan industri pariwisata, berbeda dari sifat pariwisata daerah lain yang all in (memberi fasilitas segala hal), maka pariwisata di Kodaya Padang berkembang dari nilai filosifs “adat basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullahâ€.
Tingkat hunian hotel merupakan salah satu indikator pengembangan pariwisata, “tingkat hunian Hotel Bumiminang sebagai satu-satunya hotel bintang lima di Kodya Padang tidak berkurangâ€, kata Catri tentang prospek pengembangan industri pariwisata ini. Dari nilai-nilai adat ini kemudian berkembang menjadi bungo adat dan mainan adat untuk dijadikan obyek wisata, mainan adat adalah segala bentuk kesenian atau event-event adat lainnya yang ditonton sebagai obyek wisata, seperti upacara-upacara adat Upaya Pemda Kodya Padang untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan melalui pelestarian upacara adat istiadat dan keagamaan diakui oleh Catri sebagai sebuah celah untuk mengisi kekosongan kegiatan pariwisata dari unsur kebudayaan, celah tersebut melebar pada saat dirjen pariwisata dilepaskan dari Departemen Pendidikan Nasional untuk menjadi dinas yang berdiri sendiri dalam sebuah kementerian. (***)
Sunday, June 1, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment